Pelita Tak Tergantikan: Sambutan HUT PGRI Ke-80 Warnai Peringatan Hari Guru Nasional di MTs N 5 Demak

Demak, 25 November 2025 – Pagi ini suasana berbeda menyelimuti pelaksanaan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional di MTs Negeri 5 Demak. Jika biasanya petugas upacara didominasi oleh siswa, kali ini para guru yang turun langsung menjadi pemimpin, pembaca teks, hingga petugas pengibar bendera, sementara siswa menyaksikan dengan khidmat dari barisan mereka.
Dalam suasana tersebut diwarnai dengan pembacaan sambutan HUT PGRI ke-80 yang penuh khidmat dan menyentuh hati. Sambutan tersebut dibacakan langsung oleh Pembina Upacara, Bapak Anwar, di hadapan seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Bapak Anwar mengawali dengan ucapan syukur dan menggambarkan guru sebagai sosok yang “menanam pohon meski ia tahu ia takkan pernah berteduh di bawahnya.” Metafora ini menggambarkan pengorbanan dan ketulusan seorang guru yang bekerja tanpa mengharapkan imbalan.
“Di balik lembar perencanaan pembelajaran yang dilembur hingga larut malam, di balik suara yang letih tetapi tetap tegas mengajar, di sanalah letak kemuliaan guru,” ujarnya membacakan teks sambutan, yang disambut hening oleh seluruh peserta upacara.
Sambutan tersebut menekankan bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa dan amanah. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), ditegaskan bahwa ketulusan hati seorang guru adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin apa pun.
Pidato itu juga menyoroti pengorbanan konkret guru-guru sehari-hari. “Ada guru yang tetap mengajar meskipun hujan membasahi sepatu dan pakaiannya, ada guru yang menahan air mata sambil mengajar walau ada masalah dalam keluarganya, bahkan tetap menghadiahi muridnya dengan senyuman,” lanjut Bapak Anwar, menggambarkan dedikasi yang sering tak terlihat.
Pesan khusus juga disampaikan kepada seluruh siswa. “Jika kalian melihat guru kalian marah, itu karena mereka ingin kalian tumbuh lebih baik. Jika mereka cerewet, itu karena ingin melihat kalian kuat menghadapi dunia,” pesannya. Siswa diajak untuk menghormati guru dengan mengucapkan terima kasih, menyapa dengan lembut, dan mendoakan mereka.
Di akhir sambutan, Bapak Anwar menegaskan bahwa di era digital, guru tetap menjadi “pelita yang tak tergantikan”. “Teknologi boleh berubah, kurikulum boleh berganti, tapi sentuhan manusiawi, senyum, dan motivasi seorang guru tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin secanggih apa pun,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih tulus kepada semua guru yang telah menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa” dan pembakar lilin yang menerangi sekelilingnya. Peringatan ini diharapkan memperkuat hubungan harmonis antara guru dan siswa serta mengingatkan semua akan peran sentral guru dalam membangun peradaban.

